Kalimat diatas tepat menggambarkan bagaimana kehidupan kita
sekarang. Kehidupan dimana kita terjebak
diantara indahnya masa lalu dan ancaman bahaya di masa depan.
Kalau dulu kata nenekku menebang satu pohon, gantinya
sepuluh pohon yang tumbuh dengan sendirinya.
Namun sekarang sudah berbeda. Sekarang yang ditebang ribuan pohon, tapi
gantinya puluhan rumah dan gedung yang dibangun oleh kontraktor dan mesinnya.
Sungguh tidak sebanding.
Kalau kata fisika Tekanan selalu berbading lurus dengan suhu
mutlak, maka jumlah pohon yang ditebang harus sebanding dengan jumlah pohon
yang akan ditanam. Ini bertujuan agar efek
buruk yang ditimbulkan dapat diredam sedini mungkin
Sebenarnya kalau dianalogikan pohon itu seperti anaknya
bumi. Kalau kita menebang pohon berarti
kita menebang anak bumi, bisa dibayangkan sendiri bagaimana respon sang induk
jika anaknya dibunuh orang. Pastinya
akan marah, rapuh dan nyesek. Hal itu juga akan terjadi pada bumi yang kita
tempati ini. Seandainya kita menebang
pohon tanpa menggantinya dengan pohon yang baru maka bumi akan marah kemudian
rapuh. Bisa kita bayangkan jika bumi
marah, hujan yang hanya satu malam maka air genangannya bisa menjadi satu minggu
dan tingginya juga bisa mencapai atap rumah.
Kalau bumi rapuh? Hitung saja korban yang tewas terpendam dalam
longsoran tanah akibat minimnya pohon yang bisa mencegah erosi. Lalu
bagaimana dengan nyesek? Kita bicara
perbandingan lagi, jika perbandingan banyaknya pohon dan asap kendaraan yang
ada tidak sama, maka asap kendaraan yang mengandung karbon monoksida itu akan
ke atas awan dan bereaksi sehinggan menyebabkan hujan asam, efek buruk dari
hujan asam ini adalah sesak napas, karena kandungan garam yang tinggi. Tentunya
sesak nafas lebih nyesek dari pada di
php-in pacar
Itu baru pohon, bagimana dengan AC dan kendaraan bermotor
yang juga menyumbang terjadinya peningkatan suhu rata-rata bumi atau bahasa
kerennya global warming.
Kita bahas kendaraan bermotor dulu, kita pernah belajar tentang tata nama dalam pelajaran kimia. Kalau iya mungkin anda tau bagaimana membaca notasi ini (CO). Bacaannya adalah karbon monksida. Gas ini berasal dari pembakaran dan polusi kendaraan bermotor. Ketika bertemu dengan uap air rumus kimianya H2O akan membentuk H2CO3( asam karbonat) yang termasuk asam lemah. Asam ini yang menjadi cikal bakal terjadinya hujan asam yang akan merugikan banyak orang karena sifatnya yang membuat benda yang terbuat dari besi dan baja menjadi cepat rusak akibat korosi.
Jadi tunggu apalagi, sudah cukup hidup sembarangannya. Hidup sembarangan hanya untuk dulu. Sekarang kita menatap masa depan, masa depan yang cerah untuk anak cucu kita. Jaga bumi sebagaimana kita menjaga orang yang kita sayangi.